Senin, 23 Desember 2013

Menelanjangi Mimpi


Keindahan ini serupa buih...Membelenggu tak menyesakkan,Menikmati terkadang memuntahkan amarah. Suatu tempat tak bernama, namun terasa ada.Itulah rasa..rasa kita...



Yang berawal...
Apakah sebuah kesalahan,jika keramahan membawa kita pada keadaan yang tak seharusnya?
Pagi itu Sarah memang sedang sibuk mempersiapkan akad nikahnya yang akan berlangsung empat hari lagi.dari fiting baju,ngurus catering,cari photo graph,bahkan belanja ini itu..sebagai sepupu cewek satu-satunya sudah kewajiban aku juga buat bantu dia. Tak apalah biar dia galaknya gak ketulungan,tapi aku tetap sayang sama sarah.kata orang-orang “Ola dan Sarah itu udah satu paket walau terkadang kaya anjing dan kucing”meskipun perbandingan usia kita jauh,tapi kita selalu klop dalam urusan selera.
“besuk masih harus kepenjahit lagi La...aku asli capek,kamu bisa bantu cari orang yang buat dokumentasi ntar gak La..??”keluh Sarah melas sambil merebahkan tubuhnya dikamarku.
Serontak aku menyanggupinya”hmm ya ya..aku punya temen yang jago foto kok rah,masalah itu biar aku yang handle”sedikit ku coba ringankan beban sarah di pengujung siang itu. Dan tak lama kemudian ponsel sarah bergetar,tapi tak jua membuatnya terusik dari rebahannya.
“Rah..dapet message tu Rah,entar penting lagi. Buka gih!” tegasku.
“buka coba La!”perintah Sarah lemas.
Sesaat ku raih ponsel Sarah dan mencoba membuka message itu.
“Banyu? Siapa rah? Ini Sms bilang gak bisa datang di acara entar katanya”tanyaku datar dan agak melongo.
“itu temen aku,rumahnya disamping tempat kerja ku La..”
“gak pernah kamu cerita kalo punya temen namanya Banyu?” sautku melongo.
“oiya..aku belum pernah cerita ke kamu La,,kenapa laa? Ekspresimu biasa aja napa?Dia dah punya cewek La..!!hahahaa..”celoteh Sarah ringan.
“ihh..apaan!.ngawur kamu.pacar gelap kamu kali iya rahh..inget dosa lo ,dah mau kawin juga!”sanggahku kilat.
(Tawapun tak terelakkan lagi,sontak kesenyapan kamar itu menjadi terpecah.)
Hingga hari itu benar tiba, sarah kini telah menjadi hak suaminya, dan akupun merasa ada sesuatu yang hilang,terampas halus oleh kedewasaan, dan memang sewajarnya.tapi..aku memang tak pernah rela. Dan  itu sarah,saudara  juga sahabat ku.
Semakin banyak alasan untukku berkunjung ke kota gudeg itu..terlebih kini Sarah telah memilih kota itu sebagai labuhan dari semua mimpi-mimpinya. Dan aku...tak sadar telah berjalan terlalu jauh. Sejak dikenalkannya aku dengan banyu oleh sarah, kitapun sering berkomunikasi ,tukar cerita,walau hanya sekedar sapa malam. Meski belum pernah aku temui sosok realnya.
Hingga disuatu pagi aku dan Banyu bena-benar dipertemukan ketika aku hendak mengunjungi Sarah untuk pertama kalinya. Aku masih buta jalur-jalur kota Jogja. Saat itu hanya Banyulah satu-satunya orang yang aku kenal. walaupun belum pernah kutemui sebelumnya. Dan dari situlah semua berawal.
***

............
Sepenggal kisah telah tertoreh...tentang kita dan kota,tentang ia dan lara, tentang nada yang selalu berirama mengiringi setiap detak nadi kita.dan tentang semua yang telah tercipta.akankah menjadi percuma....??
Mengingat mimpi-mimpi kecil kita,letupan angan penghias langkah kita,akankah menjadi tiada...?? yang aku tahu,aku takkan pernah mampu berlari menjauh darimu.yang aku mengerti ku hanya ingin selalu disampingmu,walau terkadang waktu memang tak pernah mau mengerti.
“Ola..aku sayang kamu la..”bisik Banyu lirih ditelingaku. Baru kali ini ku dengar dia menyebut namaku.tangannya masih  erat menyentuh basah jemariku. Kaku,kelu,dan seolah mematikan aliran darahku. Lalu aku beranjak pergi meninggalkan kamarnya tanpa sepatah ucap. Tak jua ku dengar seseorang menahanku untuk tetap dikota itu. Sampai akhirnya kereta membawaku perlahan meninggalkannya dengan kemelut pilu yang masih bersarang dalam organku.
Kita tak pernah bisa menyalahkan siapa-siapa atas posisi rasa yang ada saat ini. Aku,kamu,dia,ia sekalipun mereka. Karena semua berjalan dengan alur yang memang bisa kita uraikan. “tapi,dimata mereka tak akan ada yang membenarkan rasa ini Nyu...mengertilah!”desisku serambi merasakan kehangatan senja yang mulai menyapaku sore itu di sela-sela jendela kereta.
“Terasa munafik jika kita hanya mencari siapa yang benar dan siapa yang salah dalam hubungan ini. Buih ini terlanjur menjerat seisi hati.aku tak berdaya..” tak hentinya aku bergumam.
Langkah yang terlindungi pekat malam,mulai menapakkan keluwesannya dilabuahan kereta yang biasa menjemputku sepulang dari kotanya.dengan langkah gontai kutelusuri kegaduhan rasaku disepanjang perjalananku pulang. Diam...diam..diam...
Berharap alam lebih adil memposisikan perasaanku pada Banyu. Aku tahu..tak kan mudah baginya menghapus masalalu,begitupun aku. Aku tahu..tak kan mudah baginya melupakan kenangan yang pernah menjadi penghias dalam sepenggal kisahnya,akupun demikian. Dan akupun tahu..tak kan mudah mengakhiri rasa yang sampai sekarang masih kita jalani,walaupun dengan status yang tak pasti,akupun coba memahami...!!
“Maafkan aku...Akupun memiliki rasa yang sama denganmu. Tapi aku sadar tak ada satupun dari mereka yang membenarkan langkahku. Aku tak lebih dari sekedar benalu. Mengertilah..!”
kusempatkan meluapkan sedikit rasaku pada Banyu lewat SMS. Berharap dia mengerti alasan apa yang membuatku meninggalkannya saat dia menorehkan tanya.

05.26 PAGI
Aroma kasur masih sangat melekat disetiap pagiku,tapi nampak berbeda untuk pagi ini. Semua masih tertata rapi,bahkan terlihat seperti tak tersentuh. Hanya jaket lusuh dan tas kesayanganku yang masih lengkap dengan isinya tergeletak begitu saja dilantai kamarku. dan sisa secangkir coffee yang memang selalu menjadi sahabat malamku. Dan itulah penghias dipagiku ini. Nampak tak sesempurna hari yang pernah ada. Akupun masih kusut,lemah,lesu mungkin karena terlalu lelah menjaga malam. Sampai akhirnya  nada ponselku mengejutkan kegundahanku.
027440xxx “tentunya kita masih membutuhkan waktu untuk saling menata hati,hanya saja aku takut itu sekedar perasaan sesaat kita saja.dan akupun tidak mau berhenti ditengah jembatan ini,segeralah menampak sebagai tanda ujung jembatan ini sudah dekat”.
***
Kota disuatu Ketika
Aku dan kamu kini ada,mencoba melanjutkan keterlambatan hubungan kita. Berlenggang menapaki setiap sudut kota, berharap semua takkan pernah menjadi percuma.dan mencoba mengabaikan semua persepsi mereka tentang kita.walau sayatan itu masih sangat jelas terasa untuk semua yang pernah ada.tapi bukankah “cinta tak pernah salah”?. Yaa.. inilah rasa terbaik yang memang harus kita lewati..karna pada dasarnya hidup memang banyak rasa ^^
Yogya...sebuah kota yang keberadaanya mampu melepaskan kerinduan antara aku dan Banyu. Dan akhir pekan adalah saat yang paling  kita tunggu-tunggu untuk sekedar mencairkan kerinduan itu. Memang...terkadang aku merasa sangat berat menjalani hubungan jarak jauh ini tapi Banyu selalu punya cara untuk meyakinkan hati ini.
Sore ini untuk kesekian kalinya aku beranjak kekota Banyu,dengan kemelut rindu yang dua pekan belakangan ini bersarang dibenakku. Masih dengan kereta itu,senja itu,dan bunyi peluit itu...sangat jelas kurasakan. Tak sabar rasanya..mendekap Banyu dengan perangainnya yang hangat dan senyumnya yang masih terekam jelas dalam otakku. Terlalu sibuk aku memikirkan Banyu,tak sadar kereta sudah berhenti di Stasiun Maguwo. Dan akupun mulai menapakkan kaki di kota itu. Suasana sore itu masih sama dengan sore-sore yang pernah aku temui sebelumnya. Riuh orang bertutur kata,gemuruh pesawat tinggal landas memekak telinga, ditambah pekikan kereta menelusuri laju relnya. Bising memang, tapi itulah cinta...flexibelitas rasa,semua terasa indah. Sesaat ku lihat jam ditangan,dan memperhatikan sekitarku mencari sosok banyu menjemputku.
“Nothing..!!!Pasti telat lagii..” gerutuku dalam hati.
“Indonesia..oh Indonesia jam karet masih aja membudidaya..gak kamu,gak hubungan ini.aku pikir cuma jadwal pemberangkatan kereta aja yang gak pernah terlambat”protesku dengan nada lembut.
 “enam menit empat puluh tuju detik” sapa seseorang dibalik riuh orang menanti keberangkatan kereta. Banyuu..iyaa dia banyu yang mencoba menghitung keterlambatanya sendiri.
Serentak hal itu membuatku terperanga melihatnya,mimik wajahnya yang mengisyaratkan penyesalan seketika meluluhkan kejengkelanku. Tergantikan kemelut rasa rindu yang kian menggebu.
“maaf sayaang..aku telat..soalnyaa....tadi tuuh..” belum genap Banyu mencoba memberikan penjelasan tentang keterlambatanya.
“sssstttt...udahlah....”sanggahku serambi menarik tangan Banyu berjalan menuju parkiran,seolah tak ada yang terjadi. Dan akupun juga gak membutuhkan penjelasan itu.Bagaimanapun Banyu juga punya kehidupan sendiri.
“sayang,pengen menu  makan malam apa kah??” tawar banyu. Seraya ia menggenggam tanganku diperjalanan menuju kostnya.
“apa ajalah..yang penting nasi,laper soalnya dari siang belum maem..hehee...”sautku manja.
Mungkin lebih seringnya kita menghabiskan waktu di kota ini untuk wisata kuliner. Dari warung sekar yang menjajakan makanan khas gado-gado,lotek,dan aneka minuman. Warung makan bertenda Tiga Saudara yeng letaknya tidak begitu jauh dari kost banyu,tepatnya di Terminal Condong Catur. Tak lupa makanan favorit kita,sekaligus menu dinner pertama antara aku dan Banyu yaitu Nasi Goreng Udang. Masih ditempat yang sama, Terminal Condong Catur memang selalu menyajikan masakan khas berselera. Sampai soup galantin dipinggiran kampus UGM. Indah memang...hingga sore itu kita memutuskan untuk mencoba menu baru dikawasan kampus Seribu Cendela itu,yang tak lain adalah kampus Banyu sekarang,setelah sebelumnya dia menyelesaikan studinya dikampus  rakyat (merakyat beneran ato gak,ggak tau juga ).

Bait Yang Luruh____
Terlalu  cepat rasanya untuk memvonis hubungan ini salah. Tanpa mereka tau apa yang sebenarnya terjadi..dan akupun juga tak pernah menginginkan mereka untuk mengerti. Yang pasti aku dan Banyu dipertemukan dengan waktu dan kondisi yang benar. Tujuan yang menyatukan kita.  Semakin menepis alasan untuk menyerah setiap kali masalah mewarnai hubungan ini.
Banyak hal tergali dari sini. Aku yang setia dengan sifat acuhku,sikap cuekku, egoisku, mulai luruh bersama berjalannya waktu..
Tak tau kenapa, aku merasa sangat lemah dihadapan Banyu. Melihatnya seperti menemukan sosok sarah lagi yang hilang terbawa kedewasaan. Dia sahabat sekaligus pacar buatku. Tak jarang Banyu juga sesosok guru bagiku... dia selalu  mengajarkan banyak hal tentang hidup. seperti api..banyu bisa saja menghangatkan untuk jiwa yang beku..tapi diapun juga mampu membaakar jika aku tak berjalan pada alur yang seharusnya.

Sebuah langit-langit lantai dua dikota siswa
Sebuah ruang kokoh ditepi jalan
Berkas surya pertama menyingsing diufuk timur
Terbiarkan pintu tertutup rapat untuk nada
Selimutku masih terlelap
Dingin menjelujur tanpa permisi
Kurapatkan kepalaku pada muara degub
Kulemparkan mataku yang mengembara
Pada dinding yang menjulang
Memasung surga untuk bersatu
Memenjara keabadian yang semu
Lelah menelanjangi mimpi
Pada misteri yang tak pasti
Senyum dan tangis kesemtaraan
Harap selimut ini lekas mempertemukanku
pada hari yang tertunggu___

sebut saja namanya Dara,cewek kelahiran manado yang lebih muda dariku satu tahun inilah yang tau sebenarnya tentang hubunganku dengan banyu. Dari awal Dara memang sudah dekat dengan banyu,bahkan sebelum aku mengenalnya. Bisa dibilang sahabat. Biarpun kelahiran manado..tapi dia terlihat lebih putih dari yang sewajarnya.malahan seperti keturunan tionghoa.yaa..sepertinya memang ada yang salah dalam silsilah keluarganya. Tak ingin terlalu banyak membahas cewek satu ini. Yang jelas dia baik denganku,dan aku masih mempercayainya.
Tak jarang Aku sering menyapanya lewat sms,hanya sekedar ingin tahu apa kabaarnya. Karena pada dasarnya aku selalu mencoba mencintai apa yang banyu cinta.dari sahabatnya,kegiatanya,bahkan yang dulunya aku fans berat bondan prakoso bisa jadi yang ada difolderku hanya album jambrud . itulah sedikit rasa yang telah merubah segala yang ada dihidupku.

TENTANG MIMPI
“.....Aku memberanikan diri untuk mencoba mencintaimu meski ada kemungkinan terburuk yaitu ada yang lebih baik dariku dihatimu...”
Teringat jelas kata itu terucap lewat lisannya dihadapanku. Saat itu juga aku menutup rapat semua kemungkinan terburuk untuk hubungan ini. Karena saat itu aku begitu mempercayai banyu. Dia adalah orang yang selalu menggenggam tanganku dihadapan teman-temannya,dia adalaah orang yang selalu bilang “kamu cantik” meski aku dalam kondisi sakit, orang yang tak penah lupa mengecup keningku dan berkata “i love you” sesaat sebelum kita membuat jarak,dan dia yang selalu tanya “pagi ini sudah berapa gelas air putih” hingga terkadang aku jengkel dengan pertanyaan itu. Tapii aku sangat meniikmatinya.ada yang kurang dalam diriku jika perlakuan itu hilang.semua sudah menjadi bagian dalam cerita ini.
“ ola.. aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu dikota ini” cetusnya ringan.
“oiyaa..seneng dengernya. Membayangkan keluarga kecil kita nanti, aku ingin anak kita nanti namanya Lintang dan Bintang biar bisa mmberi warna dalam kegelapan” sautkuu sedikit memenjara lamunan dan tersenyum kecil..
“ jika dia laki-laki kuat seperti armora, jika cewek yang pasti jangan mewarisi otak ibunya” (ejek banyu sambil ngakak menatap raut jengkelku)
Suasana kantin panggung realino saat itu lumayan sepi,mungkin karena pada libur semester.
“hmm...gimana soal rumah?”tanyaku
“rumah gak harus gede bukan?”jawab Banyu.
“iyaaa...yang pentig rapi...aku ingin kamar kita nanti sebagian temboknya terbuat dari kaca , pasti sangat terang...aku merindukan kamar seperti itu.biar aku bisa mengawasimu dari dalam,oya..tak lupaa kita menaruh beberapa tanaman didepannya” akupun memmpermainkan jemariku dan seolah melukiskan denah rumah kelangit langit.
Yaa..udara dipanggung realino sangat sejuk,mungkin karena dekat dengan lapangan dan banyak pepohonan juga. Hingga kitapun terbaring leluasa menikmati atap atap dari seng itu.
“ogahh...gue kagak suka terang.gak bisa bobo..belum lagi terlihat dari luar.hii...” saut banyu masih dengan ngakaknya...
Banyu memang paling bisa membuat aku jengkel. Mungkin salah satu tujuan hidupnya memang menggodaku.hah...
“yang pasti,aku ntar akan punya ruang khusus untukku.lengkap dengan komputer,buku-buku,dan gitar...hingga aku akan merasa nyaman disana..atau sekalian saja akubuat kursus gitar.selain hobi juga bisa buat kerjaan,bagaimana denganmu La...?” tanyaanya lirih.
sama sepertiku,setiap orang pasti mempunyai mimpi.begitupun banyu
“aku akan lebih suka menghabiskan waktu untuk bersamamu saja ..kecuali saat kamu main pes tentunya.untuk yang satu itu jangann dehh..aku akan kesepian berat kalo kamu dah bersinggungan dengan barang itu Nyu (seraya aku melontarkan pukulan dibahu banyu sambil tertawa kecil) dan aku ingin punya bimbel khusus matematika,sepertinya keren...^.^?”
Sebenarnya aku tak pernah berharap jadi seorang sarjana matematika, berbicara tentang Log aja masih nggrambyang (orang jawa bilang) tapi aku selalu mencoba yang terbaik yang aku mampu. Tak salah jika Banyu berharap anak kita nanti tak mewarisi otak ibunya.
Semester ini aku memang sudah disibukkan dengan sekripsi dan tugas dari kampus,mungkin akan jarang untuk sekedar melepas kangen.
Banyupun berjanji akan meluangkan waktu untuk menjenggukku. Dan mungkin juga usai kuliahku ini aku masih ingin melanjutkan studiku di kota ini, tapi sepertinya banyu tidak terlalu setuju dengan hal itu akupun juga tak tahu apa alasannya.
Sekilas semua tentang mimpi itu seperti nyata, Tuhan membebaskan makhluknya untuk merencanakan hidup dengan sebaik-baik pilihannya. Walau kita tak pernah tau bagaimana ending dari semua ini. Mungkin sebagian orang berpendapat jika hidup itu adalah sebuah pilihan. Tapi terkadang juga kita dihadangkan tanpa pilihan. Yaa begitula..setiap orang punca cara tersendiri dalam memaknai hidup. Dan bagiku “hidup itu bukan serangkaian masalah yang harus diselesaikan,tapi sebuah proses yang harus di lewati” dan Yang pasti sampai saat ini tujuan masih mempersatukan irama langkah kita.

2 DARA DITENGAH HUJAN
Belum genap aku dan banyu merangkai  mimpi itu  teman-teman banyu datang ikut bergabung dengan kita. Hingga perhatian banyu kini terfokus pada teman-temannya. Tidak hanya HP, ku coba membuka lepi banyu berharap bisa online tapi jternyata jaringan sedang trouble. “Yaa sudahlah”, mungkin mp3 bisa menjadi pilihanku saat itu,sambil ku tancapkan headset ketelingaku. Sengaja tak terlalu keras volumenya sekedar ingin mendengar perbincangan para cowok jika sedang bersama. Ada diantara mereka yang aku kenal, tapi tak terlalu akrab. Dan terkadang aku ikut berbincang denga mereka. Sampai saat dimana ada sesorang teman banyu yang menyusul dan menyapanya.
“ nyu..lha Reisa kemana?” dengan nada datar.
Banyu hanya tersemyum kecil, dan nampak salah seorang dari temannya menatapku. Seperti memastikan aku tak mendengarkannya. Stelah hampir setahun aku menjalani semua dengan banyu,baru kali ini aku dengar nama Reisa. Ada sesuatu yang memang tak ku ketahui.
Selain Dara dia tak pernah bercerita punya sahabat akrab lain. Walau aku juga sempat tak begitu suka dengan dara. bisa dibilang jealous abis-abisan. Bukannya aku tidak suka dengan Dara, hanya saja aku merasa iri dengannya. Tak bisa sesering dia bertemu dengan Banyu, bahkan hanya sekedar makan bareng. Jika aku mampu, aku ingin ada disetiap waktunya. Menemaninya melewati hari, membuat kasih sayang itu nyata.  Dan akan terasa menyakitkan jika semua itu dilakukan wanita lain. Biarpun itu dia bilang sahabat. Apa sahabat harus wanita? Aku tidak. Ingin mengimbangi? tak pernah ada keinginan untuk itu.
Aku sempat meminta banyu untuk menjelaskan tentang Reisa, dan yang aku dapat hanya sebuah jawaban yang kurasa ambigu. Awalnya aku tak terlalu ingin tahu tentang dia. Karena aku sudah mempercayakan sepenuhya rasa ini pada Banyu.
Semenjak hari itu ada yang berubah...ada yang hilang.tapi tak tahu apa.. ini ramadhan ke dua yag aku jalani dengan Banyu. Aku merasakannya sangat berat. Entah apa karena kita sedang berada di titik jenuh, atau apa,,,aku tak begitu memahaminya. Aku hanya bisa mencoba berjalan sesuai alur yang seharusnya. Dengan tetap mencintainya dengan caraku. Tak pernah ada introspeksi darinya untukku..meskipun aku slalu mengeluh dengan sikap-sikap banyu yang tak aku suka. Bukankah cinta itu seperti itu? Aku juga bukan fipe orang yang bisa memendam perasaan.aku lebih suka mengungkapkannya sekalipun itu buruk. Mungkin akan terlihat seperti orang yang banyak menuntut. Tapi aku tak pernah serius dalam menanggapinya. Cukup dia tau apa yang aku rasakan, itu saja!
Hingga suatu ketika kejujuran itu teurall. Dan aku membencinya, mungkin dia pernah diposisi ini sebelumnya. Tapi aku tak pernah tau sebenarnya yang ada, akupun sangat membenci jarak ini. Aku sudah cukup merasa tak berarti sebagai aku yang memang ada. 
to be continue.....