|
Keindahan ini serupa
buih...Membelenggu tak menyesakkan,Menikmati terkadang memuntahkan amarah.
Suatu tempat tak bernama, namun terasa ada.Itulah rasa..rasa kita...
Yang berawal...
Apakah sebuah
kesalahan,jika keramahan membawa kita pada keadaan yang tak seharusnya?
Pagi itu Sarah
memang sedang sibuk mempersiapkan akad nikahnya yang akan berlangsung empat
hari lagi.dari fiting baju,ngurus catering,cari photo graph,bahkan belanja ini
itu..sebagai sepupu cewek satu-satunya sudah kewajiban aku juga buat bantu dia.
Tak apalah biar dia galaknya gak ketulungan,tapi aku tetap sayang sama
sarah.kata orang-orang “Ola dan Sarah itu udah satu paket walau terkadang kaya
anjing dan kucing”meskipun perbandingan usia kita jauh,tapi kita selalu klop
dalam urusan selera.
“besuk masih
harus kepenjahit lagi La...aku asli capek,kamu bisa bantu cari orang yang buat
dokumentasi ntar gak La..??”keluh Sarah melas sambil merebahkan tubuhnya
dikamarku.
Serontak aku menyanggupinya”hmm
ya ya..aku punya temen yang jago foto kok rah,masalah itu biar aku yang
handle”sedikit ku coba ringankan beban sarah di pengujung siang itu. Dan tak
lama kemudian ponsel sarah bergetar,tapi tak jua membuatnya terusik dari
rebahannya.
“Rah..dapet
message tu Rah,entar penting lagi. Buka gih!” tegasku.
“buka coba
La!”perintah Sarah lemas.
Sesaat ku raih
ponsel Sarah dan mencoba membuka message itu.
“Banyu? Siapa
rah? Ini Sms bilang gak bisa datang di acara entar katanya”tanyaku datar dan
agak melongo.
“itu temen
aku,rumahnya disamping tempat kerja ku La..”
“gak pernah
kamu cerita kalo punya temen namanya Banyu?” sautku melongo.
“oiya..aku
belum pernah cerita ke kamu La,,kenapa laa? Ekspresimu biasa aja napa?Dia dah
punya cewek La..!!hahahaa..”celoteh Sarah ringan.
“ihh..apaan!.ngawur
kamu.pacar gelap kamu kali iya rahh..inget dosa lo ,dah mau kawin
juga!”sanggahku kilat.
(Tawapun tak terelakkan lagi,sontak kesenyapan
kamar itu menjadi terpecah.)
Hingga hari itu
benar tiba, sarah kini telah menjadi hak suaminya, dan akupun merasa ada
sesuatu yang hilang,terampas halus oleh kedewasaan, dan memang
sewajarnya.tapi..aku memang tak pernah rela. Dan itu sarah,saudara juga sahabat ku.
Semakin banyak
alasan untukku berkunjung ke kota gudeg itu..terlebih kini Sarah telah memilih
kota itu sebagai labuhan dari semua mimpi-mimpinya. Dan aku...tak sadar telah
berjalan terlalu jauh. Sejak dikenalkannya aku dengan banyu oleh sarah, kitapun
sering berkomunikasi ,tukar cerita,walau hanya sekedar sapa malam. Meski belum
pernah aku temui sosok realnya.
Hingga disuatu
pagi aku dan Banyu bena-benar dipertemukan ketika aku hendak mengunjungi Sarah
untuk pertama kalinya. Aku masih buta jalur-jalur kota Jogja. Saat itu hanya
Banyulah satu-satunya orang yang aku kenal. walaupun belum pernah kutemui
sebelumnya. Dan dari situlah semua berawal.
***
............
Sepenggal kisah
telah tertoreh...tentang kita dan kota,tentang ia dan lara, tentang nada yang
selalu berirama mengiringi setiap detak nadi kita.dan tentang semua yang telah
tercipta.akankah menjadi percuma....??
Mengingat
mimpi-mimpi kecil kita,letupan angan penghias langkah kita,akankah menjadi
tiada...?? yang aku tahu,aku takkan pernah mampu berlari menjauh darimu.yang
aku mengerti ku hanya ingin selalu disampingmu,walau terkadang waktu memang tak
pernah mau mengerti.
“Ola..aku
sayang kamu la..”bisik Banyu lirih ditelingaku. Baru kali ini ku dengar dia
menyebut namaku.tangannya masih erat
menyentuh basah jemariku. Kaku,kelu,dan seolah mematikan aliran darahku. Lalu
aku beranjak pergi meninggalkan kamarnya tanpa sepatah ucap. Tak jua ku dengar
seseorang menahanku untuk tetap dikota itu. Sampai akhirnya kereta membawaku
perlahan meninggalkannya dengan kemelut pilu yang masih bersarang dalam
organku.
Kita tak pernah
bisa menyalahkan siapa-siapa atas posisi rasa yang ada saat ini.
Aku,kamu,dia,ia sekalipun mereka. Karena semua berjalan dengan alur yang memang
bisa kita uraikan. “tapi,dimata mereka tak akan ada yang membenarkan rasa ini
Nyu...mengertilah!”desisku serambi merasakan kehangatan senja yang mulai
menyapaku sore itu di sela-sela jendela kereta.
“Terasa munafik
jika kita hanya mencari siapa yang benar dan siapa yang salah dalam hubungan
ini. Buih ini terlanjur menjerat seisi hati.aku tak berdaya..” tak hentinya aku
bergumam.
Langkah yang
terlindungi pekat malam,mulai menapakkan keluwesannya dilabuahan kereta yang
biasa menjemputku sepulang dari kotanya.dengan langkah gontai kutelusuri
kegaduhan rasaku disepanjang perjalananku pulang. Diam...diam..diam...
Berharap alam
lebih adil memposisikan perasaanku pada Banyu. Aku tahu..tak kan mudah baginya
menghapus masalalu,begitupun aku. Aku tahu..tak kan mudah baginya melupakan
kenangan yang pernah menjadi penghias dalam sepenggal kisahnya,akupun demikian.
Dan akupun tahu..tak kan mudah mengakhiri rasa yang sampai sekarang masih kita
jalani,walaupun dengan status yang tak pasti,akupun coba memahami...!!
“Maafkan
aku...Akupun memiliki rasa yang sama denganmu. Tapi aku sadar tak ada satupun
dari mereka yang membenarkan langkahku. Aku tak lebih dari sekedar benalu.
Mengertilah..!”
kusempatkan
meluapkan sedikit rasaku pada Banyu lewat SMS. Berharap dia mengerti alasan apa
yang membuatku meninggalkannya saat dia menorehkan tanya.
05.26 PAGI
Aroma kasur
masih sangat melekat disetiap pagiku,tapi nampak berbeda untuk pagi ini. Semua
masih tertata rapi,bahkan terlihat seperti tak tersentuh. Hanya jaket lusuh dan
tas kesayanganku yang masih lengkap dengan isinya tergeletak begitu saja
dilantai kamarku. dan sisa secangkir coffee yang memang selalu menjadi sahabat
malamku. Dan itulah penghias dipagiku ini. Nampak tak sesempurna hari yang
pernah ada. Akupun masih kusut,lemah,lesu mungkin karena terlalu lelah menjaga
malam. Sampai akhirnya nada ponselku
mengejutkan kegundahanku.
027440xxx “tentunya kita masih membutuhkan waktu untuk
saling menata hati,hanya saja aku takut itu sekedar perasaan sesaat kita
saja.dan akupun tidak mau berhenti ditengah jembatan ini,segeralah menampak
sebagai tanda ujung jembatan ini sudah dekat”.
***
Kota disuatu Ketika
Aku dan kamu
kini ada,mencoba melanjutkan keterlambatan hubungan kita. Berlenggang menapaki
setiap sudut kota, berharap semua takkan pernah menjadi percuma.dan mencoba
mengabaikan semua persepsi mereka tentang kita.walau sayatan itu masih sangat
jelas terasa untuk semua yang pernah ada.tapi bukankah “cinta tak pernah
salah”?. Yaa.. inilah rasa terbaik yang memang harus kita lewati..karna pada
dasarnya hidup memang banyak rasa ^^
Yogya...sebuah
kota yang keberadaanya mampu melepaskan kerinduan antara aku dan Banyu. Dan
akhir pekan adalah saat yang paling kita
tunggu-tunggu untuk sekedar mencairkan kerinduan itu. Memang...terkadang aku
merasa sangat berat menjalani hubungan jarak jauh ini tapi Banyu selalu punya
cara untuk meyakinkan hati ini.
Sore ini untuk kesekian
kalinya aku beranjak kekota Banyu,dengan kemelut rindu yang dua pekan
belakangan ini bersarang dibenakku. Masih dengan kereta itu,senja itu,dan bunyi
peluit itu...sangat jelas kurasakan. Tak sabar rasanya..mendekap Banyu dengan
perangainnya yang hangat dan senyumnya yang masih terekam jelas dalam otakku.
Terlalu sibuk aku memikirkan Banyu,tak sadar kereta sudah berhenti di Stasiun
Maguwo. Dan akupun mulai menapakkan kaki di kota itu. Suasana sore itu masih
sama dengan sore-sore yang pernah aku temui sebelumnya. Riuh orang bertutur
kata,gemuruh pesawat tinggal landas memekak telinga, ditambah pekikan kereta
menelusuri laju relnya. Bising memang, tapi itulah cinta...flexibelitas
rasa,semua terasa indah. Sesaat ku lihat jam ditangan,dan memperhatikan sekitarku
mencari sosok banyu menjemputku.
“Nothing..!!!Pasti
telat lagii..” gerutuku dalam hati.
“Indonesia..oh
Indonesia jam karet masih aja membudidaya..gak kamu,gak hubungan ini.aku pikir
cuma jadwal pemberangkatan kereta aja yang gak pernah terlambat”protesku dengan
nada lembut.
“enam menit empat puluh tuju detik” sapa
seseorang dibalik riuh orang menanti keberangkatan kereta. Banyuu..iyaa dia
banyu yang mencoba menghitung keterlambatanya sendiri.
Serentak hal
itu membuatku terperanga melihatnya,mimik wajahnya yang mengisyaratkan
penyesalan seketika meluluhkan kejengkelanku. Tergantikan kemelut rasa rindu
yang kian menggebu.
“maaf
sayaang..aku telat..soalnyaa....tadi tuuh..” belum genap Banyu mencoba
memberikan penjelasan tentang keterlambatanya.
“sssstttt...udahlah....”sanggahku
serambi menarik tangan Banyu berjalan menuju parkiran,seolah tak ada yang
terjadi. Dan akupun juga gak membutuhkan penjelasan itu.Bagaimanapun Banyu juga
punya kehidupan sendiri.
“sayang,pengen
menu makan malam apa kah??” tawar banyu.
Seraya ia menggenggam tanganku diperjalanan menuju kostnya.
“apa
ajalah..yang penting nasi,laper soalnya dari siang belum maem..hehee...”sautku
manja.
Mungkin lebih
seringnya kita menghabiskan waktu di kota ini untuk wisata kuliner. Dari warung sekar yang menjajakan makanan
khas gado-gado,lotek,dan aneka minuman. Warung makan bertenda Tiga Saudara yeng letaknya tidak begitu
jauh dari kost banyu,tepatnya di Terminal Condong Catur. Tak lupa makanan
favorit kita,sekaligus menu dinner pertama antara aku dan Banyu yaitu Nasi
Goreng Udang. Masih ditempat yang sama, Terminal Condong Catur memang selalu
menyajikan masakan khas berselera. Sampai soup galantin dipinggiran kampus UGM.
Indah memang...hingga sore itu kita memutuskan untuk mencoba menu baru dikawasan
kampus Seribu Cendela itu,yang tak lain adalah kampus Banyu sekarang,setelah
sebelumnya dia menyelesaikan studinya dikampus
rakyat (merakyat beneran ato gak,ggak tau juga ).
Bait Yang
Luruh____
Terlalu cepat rasanya untuk memvonis hubungan ini
salah. Tanpa mereka tau apa yang sebenarnya terjadi..dan akupun juga tak pernah
menginginkan mereka untuk mengerti. Yang pasti aku dan Banyu dipertemukan
dengan waktu dan kondisi yang benar. Tujuan yang menyatukan kita. Semakin menepis alasan untuk menyerah setiap
kali masalah mewarnai hubungan ini.
Banyak hal tergali dari sini. Aku
yang setia dengan sifat acuhku,sikap cuekku, egoisku, mulai luruh bersama
berjalannya waktu..
Tak tau kenapa, aku merasa sangat
lemah dihadapan Banyu. Melihatnya seperti menemukan sosok sarah lagi yang
hilang terbawa kedewasaan. Dia sahabat sekaligus pacar buatku. Tak jarang Banyu
juga sesosok guru bagiku... dia selalu
mengajarkan banyak hal tentang hidup. seperti api..banyu bisa saja
menghangatkan untuk jiwa yang beku..tapi diapun juga mampu membaakar jika aku
tak berjalan pada alur yang seharusnya.
Sebuah langit-langit lantai dua
dikota siswa
Sebuah ruang kokoh ditepi jalan
Berkas surya pertama menyingsing diufuk timur
Terbiarkan pintu tertutup rapat untuk nada
Selimutku masih terlelap
Dingin
menjelujur tanpa permisi
Kurapatkan
kepalaku pada muara degub
Kulemparkan mataku yang mengembara
Pada dinding
yang menjulang
Memasung
surga untuk bersatu
Memenjara
keabadian yang semu
Lelah menelanjangi mimpi
Pada misteri
yang tak pasti
Senyum dan
tangis kesemtaraan
Harap
selimut ini lekas mempertemukanku
pada hari
yang tertunggu___
sebut saja namanya Dara,cewek
kelahiran manado yang lebih muda dariku satu tahun inilah yang tau sebenarnya
tentang hubunganku dengan banyu. Dari awal Dara memang sudah dekat dengan
banyu,bahkan sebelum aku mengenalnya. Bisa dibilang sahabat. Biarpun kelahiran
manado..tapi dia terlihat lebih putih dari yang sewajarnya.malahan seperti
keturunan tionghoa.yaa..sepertinya memang ada yang salah dalam silsilah
keluarganya. Tak ingin terlalu banyak membahas cewek satu ini. Yang jelas dia
baik denganku,dan aku masih mempercayainya.
Tak jarang Aku sering menyapanya
lewat sms,hanya sekedar ingin tahu apa kabaarnya. Karena pada dasarnya aku
selalu mencoba mencintai apa yang banyu cinta.dari sahabatnya,kegiatanya,bahkan
yang dulunya aku fans berat bondan prakoso bisa jadi yang ada difolderku hanya
album jambrud . itulah sedikit rasa yang telah merubah segala yang ada
dihidupku.
TENTANG MIMPI
“.....Aku memberanikan diri untuk
mencoba mencintaimu meski ada kemungkinan terburuk yaitu ada yang lebih baik
dariku dihatimu...”
Teringat jelas kata itu terucap
lewat lisannya dihadapanku. Saat itu juga aku menutup rapat semua kemungkinan
terburuk untuk hubungan ini. Karena saat itu aku begitu mempercayai banyu. Dia
adalah orang yang selalu menggenggam tanganku dihadapan teman-temannya,dia
adalaah orang yang selalu bilang “kamu cantik” meski aku dalam kondisi sakit,
orang yang tak penah lupa mengecup keningku dan berkata “i love you” sesaat
sebelum kita membuat jarak,dan dia yang selalu tanya “pagi ini sudah berapa
gelas air putih” hingga terkadang aku jengkel dengan pertanyaan itu. Tapii aku
sangat meniikmatinya.ada yang kurang dalam diriku jika perlakuan itu
hilang.semua sudah menjadi bagian dalam cerita ini.
“ ola.. aku ingin menghabiskan sisa
hidupku bersamamu dikota ini” cetusnya ringan.
“oiyaa..seneng dengernya.
Membayangkan keluarga kecil kita nanti, aku ingin anak kita nanti namanya
Lintang dan Bintang biar bisa mmberi warna dalam kegelapan” sautkuu sedikit
memenjara lamunan dan tersenyum kecil..
“ jika dia laki-laki kuat seperti
armora, jika cewek yang pasti jangan mewarisi otak ibunya” (ejek banyu sambil
ngakak menatap raut jengkelku)
Suasana kantin panggung realino saat
itu lumayan sepi,mungkin karena pada libur semester.
“hmm...gimana soal rumah?”tanyaku
“rumah gak harus gede bukan?”jawab
Banyu.
“iyaaa...yang pentig rapi...aku
ingin kamar kita nanti sebagian temboknya terbuat dari kaca , pasti sangat
terang...aku merindukan kamar seperti itu.biar aku bisa mengawasimu dari
dalam,oya..tak lupaa kita menaruh beberapa tanaman didepannya” akupun
memmpermainkan jemariku dan seolah melukiskan denah rumah kelangit langit.
Yaa..udara dipanggung realino sangat
sejuk,mungkin karena dekat dengan lapangan dan banyak pepohonan juga. Hingga
kitapun terbaring leluasa menikmati atap atap dari seng itu.
“ogahh...gue kagak suka terang.gak
bisa bobo..belum lagi terlihat dari luar.hii...” saut banyu masih dengan
ngakaknya...
Banyu memang paling bisa membuat aku
jengkel. Mungkin salah satu tujuan hidupnya memang menggodaku.hah...
“yang pasti,aku ntar akan punya
ruang khusus untukku.lengkap dengan komputer,buku-buku,dan gitar...hingga aku
akan merasa nyaman disana..atau sekalian saja akubuat kursus gitar.selain hobi
juga bisa buat kerjaan,bagaimana denganmu La...?” tanyaanya lirih.
sama sepertiku,setiap orang pasti
mempunyai mimpi.begitupun banyu
“aku akan lebih suka menghabiskan
waktu untuk bersamamu saja ..kecuali saat kamu main pes tentunya.untuk yang
satu itu jangann dehh..aku akan kesepian berat kalo kamu dah bersinggungan
dengan barang itu Nyu (seraya aku melontarkan pukulan dibahu banyu sambil
tertawa kecil) dan aku ingin punya bimbel khusus matematika,sepertinya
keren...^.^?”
Sebenarnya aku tak pernah berharap
jadi seorang sarjana matematika, berbicara tentang Log aja masih nggrambyang
(orang jawa bilang) tapi aku selalu mencoba yang terbaik yang aku mampu. Tak
salah jika Banyu berharap anak kita nanti tak mewarisi otak ibunya.
Semester ini aku memang sudah
disibukkan dengan sekripsi dan tugas dari kampus,mungkin akan jarang untuk sekedar
melepas kangen.
Banyupun berjanji akan meluangkan
waktu untuk menjenggukku. Dan mungkin juga usai kuliahku ini aku masih ingin
melanjutkan studiku di kota ini, tapi sepertinya banyu tidak terlalu setuju
dengan hal itu akupun juga tak tahu apa alasannya.
Sekilas semua tentang mimpi itu
seperti nyata, Tuhan membebaskan makhluknya untuk merencanakan hidup dengan
sebaik-baik pilihannya. Walau kita tak pernah tau bagaimana ending dari semua
ini. Mungkin sebagian orang berpendapat jika hidup itu adalah sebuah pilihan.
Tapi terkadang juga kita dihadangkan tanpa pilihan. Yaa begitula..setiap orang
punca cara tersendiri dalam memaknai hidup. Dan bagiku “hidup itu bukan
serangkaian masalah yang harus diselesaikan,tapi sebuah proses yang harus di
lewati” dan Yang pasti sampai saat ini tujuan masih mempersatukan irama langkah
kita.
2 DARA DITENGAH HUJAN
Belum genap aku dan banyu
merangkai mimpi itu teman-teman banyu datang ikut bergabung dengan
kita. Hingga perhatian banyu kini terfokus pada teman-temannya. Tidak hanya HP,
ku coba membuka lepi banyu berharap bisa online tapi jternyata jaringan sedang
trouble. “Yaa sudahlah”, mungkin mp3 bisa menjadi pilihanku saat itu,sambil ku
tancapkan headset ketelingaku. Sengaja tak terlalu keras volumenya sekedar
ingin mendengar perbincangan para cowok jika sedang bersama. Ada diantara
mereka yang aku kenal, tapi tak terlalu akrab. Dan terkadang aku ikut
berbincang denga mereka. Sampai saat dimana ada sesorang teman banyu yang
menyusul dan menyapanya.
“ nyu..lha Reisa kemana?” dengan nada
datar.
Banyu hanya tersemyum kecil, dan
nampak salah seorang dari temannya menatapku. Seperti memastikan aku tak
mendengarkannya. Stelah hampir setahun aku menjalani semua dengan banyu,baru
kali ini aku dengar nama Reisa. Ada sesuatu yang memang tak ku ketahui.
Selain Dara dia tak pernah bercerita
punya sahabat akrab lain. Walau aku juga sempat tak begitu suka dengan dara.
bisa dibilang jealous abis-abisan. Bukannya aku tidak suka dengan Dara, hanya
saja aku merasa iri dengannya. Tak bisa sesering dia bertemu dengan Banyu,
bahkan hanya sekedar makan bareng. Jika aku mampu, aku ingin ada disetiap
waktunya. Menemaninya melewati hari, membuat kasih sayang itu nyata. Dan akan terasa menyakitkan jika semua itu
dilakukan wanita lain. Biarpun itu dia bilang sahabat. Apa sahabat harus
wanita? Aku tidak. Ingin mengimbangi? tak pernah ada keinginan untuk itu.
Aku sempat meminta banyu untuk
menjelaskan tentang Reisa, dan yang aku dapat hanya sebuah jawaban yang kurasa
ambigu. Awalnya aku tak terlalu ingin tahu tentang dia. Karena aku sudah
mempercayakan sepenuhya rasa ini pada Banyu.
Semenjak hari itu ada yang
berubah...ada yang hilang.tapi tak tahu apa.. ini ramadhan ke dua yag aku
jalani dengan Banyu. Aku merasakannya sangat berat. Entah apa karena kita
sedang berada di titik jenuh, atau apa,,,aku tak begitu memahaminya. Aku hanya
bisa mencoba berjalan sesuai alur yang seharusnya. Dengan tetap mencintainya
dengan caraku. Tak pernah ada introspeksi darinya untukku..meskipun aku slalu
mengeluh dengan sikap-sikap banyu yang tak aku suka. Bukankah cinta itu seperti
itu? Aku juga bukan fipe orang yang bisa memendam perasaan.aku lebih suka
mengungkapkannya sekalipun itu buruk. Mungkin akan terlihat seperti orang yang
banyak menuntut. Tapi aku tak pernah serius dalam menanggapinya. Cukup dia tau
apa yang aku rasakan, itu saja!
Hingga suatu ketika kejujuran itu
teurall. Dan aku membencinya, mungkin dia pernah diposisi ini sebelumnya. Tapi
aku tak pernah tau sebenarnya yang ada, akupun sangat membenci jarak ini. Aku
sudah cukup merasa tak berarti sebagai aku yang memang ada.
|
eno_blackly
Senin, 23 Desember 2013
Menelanjangi Mimpi
Langganan:
Postingan (Atom)